THE MEANING OF LOVE

The Meaning of Love

The Meaning of Love

Author : @afanya_

Cast :

  1. Kim Jong In (EXO-K) as Jongin
  2. Fany Choi (OC) as Fany cover by Ulzzang Kim Shin Yeon
  3. And other (find it guys !)

Genre : Romance, School-Life, Friendship, Family, and other

For : Teen PG-15

Length : Chapter

Warning : MISS TYPO (oT-T)尸 alur gaje membingungkan.
HAPPY READING!!!!

Saat hatimu remuk dan tidak berbekas,

saat itulah waktumu untuk bangkit

dan menemukan arti sebenarnya dari sebuah

cinta kasih

Butiran salju menempel di jendela kecil rumah megah itu. Seorang gadis remaja meringkuk di balik selimut tebalnya. Terlalu malas untuk melakukan aktivitas yang berarti pagi itu. Bunyi bell dari lantai bawah memaksanya untuk membuka mata dan mengubah posisi untuk terduduk. Kemudian berteriak tidak jelas sebelum berlari membuka pintu.

shin yeon

Seorang lelaki dewasa dengan balutan jas biru tua memberikan senyuman ramah pada gadis itu. Tanpa disuruh lagi, gadis itu sudah memanggil kedua orang tuanya yang baru saja pulang dari rumah neneknya di London. Gadis itu berbalik menuju dapur setelah melihat kedua orangtuanya turun dengan tergopoh-gopoh.

Fany Choi nama gadis itu. Seorang gadis remaja dengan wajah oriental yang manis dan tubuh jenjang bak seorang pragawati. Ia mendapatkan wajah oriental dari ayahnya yang berasal dari negeri gingseng. Sedangkan tubuh jenjang itu didapatkan dari ibunya yang dahulunya merupakan seorang pragawati terkenal di London.

Hidup di rumah megah nan mewah terkadang membuatnya senang juga sedih. Sedih karena kedua orangtuanya selalu sulit untuk ditemui, apalagi diakhir bulan. Fany tidak akan kaget apabila ia menemukan dirinya sendirian terkurung di dalam rumah megah itu, sedangkan kedua orangtuanya sudah pergi menemui kolega perusahaan yang berada di luar kota bahkan tak jarang di luar negeri. Senangnya karena setiap hari ia bisa bebas memakan apa saja yang ada di dalam kulkas tanpa membaginya kepada orang lain. Bisa nonton channel tv favoritnya tanpa gangguan orang lain. Tapi tetap saja rasanya ada yang kurang.

Fany hampir tersedak ketika kedua orangtuanya mengatakan akan memindahkannya ke Korea, Negara kelahiran ayahnya. Ia mencoba mengerti ketika mendengarkan penuturan kedua orangtuanya yang tidak bisa membiarkan buah hati mereka sendirian di rumah ini tanpa pengawasan. Fany menuruti kemauan kedua orangtuanya untuk pindah ke Korea. Dan menetap di sana untuk beberapa tahun berikutnya—mungkin.

Masalah bahasa bukanlah masalah yang begitu sulit untuk Fany. Di dalam keseharian orangtuanya menggunakan bahasa Inggris dan Korea jadi ia tidak usah pusing untuk mencari tempat les khusus bahasa Korea. Dan tentu saja, menghemat uang.

 

 

Di pagi hari yang begitu dingin terlihat seorang gadis sibuk membenarkan syal serta merapatkan mantel merah muda kesukaannya. Gadis remaja itu menarik koper bergambar ‘elmo’ menuju sebuah mobil yang bertugas mengantarkan gadis itu ke tempat tinggalnya selama di Korea. Bukan rumah keluarga Choi, karena halemoni­-nya sedang berlibur ke Miami beberapa bulan lalu, bukan juga ke rumah Choi ahjumma karena bibinya itu baru saja berangkat ke Prancis untuk mengurus segala tetek-bengek berkaitan perusahaan Choi. Tapi ia akan tinggal di rumah kenalan appa-nya dan Fany merasa risih akan hal itu. Hey, ia bahkan tidak kenal siapa Tuan Kim yang dimaksud oleh ayahnya. Fany bukan gadis yang pandai bergaul, ia takut saja Tuan Kim dan keluarganya tidak suka ia menumpang di rumah mereka. Terlebih, Fany adalah gadis yang berbicara kelewat jujur, siapa tahu hal itu tidak sesuai dengan adat ‘Timur’ yang sangat berbeda dengan adat di daerahnya yang begitu bebas.

Fany mengambil nafas panjang saat melihat beragam rumah-rumah mewah yang terlihat dari jendela mobil. Kenalan appa-nya pasti orang kaya. Ia melihat sebuah rumah yang sangat mencolok karena keindahannya. Benar-benar seperti sebuah istana, sebenarnya rumahnya di London juga tidak kalah indahnya dengan rumah itu, tapi rumah itu berbeda, ada sebuah perasaan tentram saat melihat rumah tersebut. Fany menatap rumah itu yang semakin dekat dengan penglihatannya lekat-lekat. Hey, jangan bercanda, kenapa mobilnya bergerak ke rumah itu? Oh ia akan tinggal di istana rumah itu? Great, semoga saja ia tidak terlihat begitu kampungan.

Mobil yang ia tumpangi berhenti. Ia segera membuka pintu dan menatap pintu berwarna kayu mahoni itu dengan tatapan kagum.  Matanya melihat dua buah patung chupid yang terletak di kanan-kiri pintu. Senyumnya mengembang melihat patung chupid dengan pipi gembul tersebut. Seorang sopir yang ditugaskan untuk mengantarnya sudah terlebih dahulu memasuki rumah dengan membawa kopernya. Fany mengikuti sopir itu dan semakin kagum dengan arsitektur di dalamnya. Oh ayolah, pemilik rumah ini pasti seorang arsitek ia berani jamin!

“Selamat datang, Fany-ssi.” Fany menoleh ke arah suara yang memanggil namanya. Ia kemudian membungkuk dan tersenyum setelahnya. Laki-laki itu terlihat lebih muda dari ayahnya, mungkin sekitar 42 atau lebih. Itu pasti Tuan Kim, batin Fany.

“Senang sekali bisa bertemu dengan Fany eonni~”

lolen

Fany tersenyum melihat seorang anak perempuan dengan pipi chubby dan mengenakan baju pink yang sangat manis sedang tersenyum ke arahnya. Gadis itu juga melihat seorang wanita di sebelah anak perempuan itu. Fany kemudian menghampiri Tuan Kim dan keluarganya.

Kamsahamnida semuanya. Mohon bantuannya.”

“Adik namamu siapa?”

“Hana. Kim Hana eonni~”

Anak perempuan yang kira-kira usianya 7 tahun itu menarik tangan Fany membawanya berjalan melintasi lorong rumah itu. Fany terus berdecak kagum melihat hiasan dinding dan dekorasi ruangan yang terlihat begitu harmonis. Dia dapat melihat banyak sekali sertifikat yang ditempel di dinding dengan indahnya, sertifikat itu menunjukkan bahwa Tuan Kim benar-benar seorang arsitek. Langkah kaki Hana berhenti, membuat Fany berhenti pula. Fany mengintip ke dalam ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Hana mengetuk pintu itu. Seorang laki-laki remaja membuka pintu.

“Hana-ah, oppa sudah bilang jangan ganggu oppa. Eh, dia siapa?”

Fany membuang mukanya. Ia tidak mungkin sanggup melihat orang yang ada di depannya. Bisa gawat kalau laki-laki itu sampai melihatnya. Dan parahnya, ia akan tinggal serumah dengan laki-laki ini?! Are you f*cking kidding me?!, batin Fany.

Hana menarik tangan Fany mengulurkannya pada laki-laki di hadapan mereka.

Eonni, kenalan dulu sama oppa-nya Hana.”

Ya Tuhan. Bahkan menelan ludah saja terasa sangat sulit, batin Fany.

Laki-laki itu menatap Fany dengan pandangan mengejeknya. Ia baru sadar kalau gadis didepannya itu adalah gadis yang tidak sengaja ia permalukan saat liburan tahun lalunya di London. Laki-laki itu bernama Kim Jongin, seorang remaja berusia 19 tahun yang sangat playboy dan urakan. Tapi kepandaiannya harus diacungi jempol karena selalu meraih tiga besar ranking paralel di SMAnya. Jongin menyalami tangan Fany, membuat gadis itu mengutuk Jongin dalam hati.

“Hai. Namaku Kim Jongin.”

tumblr_m42fu5GFfW1rq6bq8o1_500

Fany mendecih pelan saat tangan Jongin meremas tangannya sambil tertawa aneh.

“Fany Choi.” Katanya singkat—itu juga karena Hana yang memaksanya mengenalkan diri.

 

Sungguh! Sebenarnya hari ini hari apa sih? Kenapa Fany harus tertimpa sial bertemu dengan laki-laki menyebalkan bernama Kim Jongin! Gadis itu merebahkan dirinya di kasur dan memijat pelipisnya pelan. Saku mantelnya bergetar, segera diambilnya ponsel dan melihat sebuah pesan singkat yang masuk.

From : Mom ♥

Bagaimana disana? Kim ahjussi dan keluarga sangat baik bukan? Mom berharap kau betah di sana. Jangan lupakan kartu kreditmu. Be happy dear~

“Semuanya baik kecuali si hitam itu.” gumam Fany dengan nada kesuhnya. Buru-buru gadis itu mengetikkan pesan balasan.

To : Mom  ♥

Baik. Ya, mereka memang sangat baik. Semoga saja begitu, Mom.  Aku tidak akan lupa tentang yang satu itu. You too Mom~

“Kuharap aku juga akan betah tinggal di sini Mom…” gumam Fany sebelum tertidur dengan nyenyaknya.

 

kim shin yeonnn111

 

 

 

 

 

 

 

Angin berhembus cukup kencang membuat butiran salju yang turun dari langit itu terombang-ambing mengikuti arah angin. Fany menepuk pipinya, ia masih sangat mengantuk dan harus segera berangkat ke sekolah barunya. Jam ‘elmo’ yang melilit di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 6 waktu Korea.

Gadis itu segera membenarkan dasi seragam sekolahnya kemudian meraih mantel merah mudanya dan melangkah keluar dari rumah. Bibirnya membentuk lengkungan sebal ketika melihat Jongin dengan motor besarnya yang meraung ganas. Gadis itu mengalihkan pandangan ketika Jongin menoleh dan memberikan senyum ke arahnya.

kawasaki_ninja_250r_2009_1280x800_red

“Pagi.” Sapa Jongin saat Fany melintas di sebelah motor besarnya. Gadis itu tak menghiraukan dan hanya berhenti untuk membuka payungnya. Jongin terkekeh lalu kembali membuat motor besarnya meraung kencang. Fany menoleh ke arah Jongin dan memberikan tatapan dinginnya. Dasar cowok caper, batin Fany.

“Butuh tumpangan ke sekolah?”tawar Jongin.

Fany tersenyum sinis. “Tidak perlu, aku bisa naik bus.”

Jongin mengubah gaya duduknya kemudian meneliti wajah Fany secara terang-terangan membuat Fany merasa sangat risih.

“Apaan sih? Cowok norak.”kata Fany kemudian melangkah menjauh dari Jongin.

“Hei. Bus akan penuh sesak saat musim dingin.”kata Jongin. Fany menoleh dan menampakan tatapan mengejeknya. “Jangan membodohiku, Kim Jong In.”

Jongin terkekeh aneh, “Kau pintar sekali. Kalau begitu, mau semotor dengan laki-laki norak ini?”

“Kau yang memaksaku.” Gadis itu menutup payungnya dan melangkah mendekati motor Jongin dan kemudian duduk di sana. Setelah mengenakan helm yang disodorkan oleh Jongin motor besar itu melaju dengan kecepatan diluar batas tempo normal. Fany mengeratkan pegangannya pada bagian belakang motor besar itu. Suatu kesalahan telah menuruti kemauan Kim Jong In.

Motor besar milik Jongin terpakir rapi di parkiran sekolah. Bukan berarti hal yang sama juga berlaku untuk si penumpangnya. Fany bahkan menghabiskan 2 buah kantung plastik karena muntah dengan hebatnya. Kim Jong In sukses membuat Fany marah sampai ke ubun-ubun. Jongin sendiri masih berdiri agak jauh dari Fany memperhatikan gadis itu yang masih muntah dengan hebatnya. Fany membuang kantung plastik ke tempat sampah dan buru-buru membersihkan mulutnya menggunakan tissue basah yang selalu dibawanya.

“Kau baik-baik saja?”

Fany memberikan tatapan paling menusuknya pada Jongin. Laki-laki itu memberikan senyuman bersalah.

“Apa perlu kugendong ke kelas?”

Fany mendelik dan memekik kesal. Jongin yang melihatnya tertawa dalam hati.

“Apa perlu ku peluk agar tidak muntah lagi?”goda Jongin.

“TUTUP MULUTMU!” bentak Fany kemudian melangkah semakin jauh dari Jongin menuju kelas barunya.

Kelas barunya tidak terlalu buruk. Teman-teman sekelasnya sangat baik. Ia bahkan sudah dekat dengan teman sebangkunya Lee Minah yang belakangan diketahui sebagai ketua kelas dari kelas barunya. Fany sangat bersyukur karena ia tidak sekelas dengan Jongin. Tapi hal yang menyebalkan baru saja datang pada dirinya. Karena keesokan harinya, loker miliknya berisi penuh dengan surat, cokelat, bunga mawar, dan hey siapa yang menaruh kecoak di lokernya?! Benar-benar kurang kerjaan! Gadis itu membanting pintu lokernya dan segera menguncinya rapat.

“Menjijihkan sekali…”gumam Fany kemudian melangkah menjauh dari lokernya.

“Apa tidak ada gadis yang bisa mereka idolakan di sekolah ini?ADUH!”

Fany mengelus sikunya yang bertubrukan dengan dinginnya lantai koridor. Sebuah tangan terulur untuk menolongnya. Gadis itu menatap tepat di kedua mata milik orang yang menolong dan sudah pasti orang itu pula yang menabraknya. Fany merasakan udara di sekelilingnya menipis. Laki-laki itu memiliki pesona yang luar biasa bagi Fany. Laki-laki itu mampu memonopoli detakan jantung Fany hingga rasanya akan meledak saat itu juga. Dan rasanya darahnya berdesir ketika ia melihat senyuman laki-laki itu.

Melihat tidak ada respon dari Fany, laki-laki itu segera menarik tangan gadis itu. Fany berdiri sangat dekat di depan laki-laki itu. Pipinya pasti sudah memerah karena perlakuan laki-laki itu. Laki-laki tadi meneliti bagian siku Fany yang lebam.

“Pasti sakit. Perlu ku antar ke ruang kesehatan?”

“Ti..tidak perlu, beberapa hari lagi pasti sembuh. Terimakasih sudah menolongku.”

“Harusnya aku yang meminta maaf karena menabrakmu.”

Laki-laki itu menampakan senyuman manisnya ketika melihat seburat merah di kedua pipi Fany.

“Kau anak baru ya? Siapa namamu?”

Fany menoleh lalu mengangguk. “Namaku..Fany Choi. Kau sendiri?”

“Namaku…”

-TBC-

 

7 responses to “THE MEANING OF LOVE

  1. Itu anak kecilnya siapa baekkie? Imut banget yakin!
    Sorry nih baru komen di blog, kalo di fb aku agak males buka😀 Nice FF! Ditunggu kelanjutannya!

  2. Ping-balik: THE MEANING OF LOVE CHAPTER 1 | KPOP SOTOY BANGET·

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s