THE MEANING OF LOVE PART 2

the meaning of love part 5 o

 

THE MEANING OF LOVE PART 2

a fanfict written by @afanya_

 

CAST : KIM JONGIN (EXO), FANY CHOI (OC) ,PARK HYOJIN (OC), XI LUHAN (EXO), and other | Genre : School-life; AU ; Romance ; little bit fluff ; family | Rating : T (PG-15) | Length : Chapter

 

AFANYASTORYLINE©AUGUST2013

PRESENT

 

DO NOT COPY PASTE WITH OUT MY PREMISSION

PLAGIATOR AND SILENT READER PLEASE GO AWAY!

 

Be carefull this fanfict contain many typo!
Happy Reading!

 Δ Δ Δ

 

” Seperti sebuah kuncup bunga  yang akan mekar,

 seperti itulah

Cinta.

 

“Xi Luhan!”

shin yeong eonni

Fany menoleh ke arah suara panggilan itu. Seorang laki-laki dengan rambut pink-nya menghampiri laki-laki yang menolong Fany. Xi Luhan. Jadi nama laki-laki yang menolongnya itu Xi Luhan?, batin Fany. Xi Luhan mengobrol entah apa dengan laki-laki berambut pink yang ternyata bernama Oh Sehun. Fany mengetahuinya karena mencuri pandang pada nametag di seragam milik Sehun.

gantengnya sehunnie

 

 

Luhan menghampiri Fany dan meminta izin untuk pergi dengan Sehun. Laki-laki dengan wajah tampan nan imut itu juga mengatakan agar Fany tidak sungkan memintanya menemani ke ruang kesehatan jikalau lebam di sikunya belum pulih besok. Fany tentu saja berterimakasih sebelum Luhan dan Sehun menghilang di tikungan koridor. Nafas Fany terasa berat, raut wajahnya terlihat tidak rela. Tunggu, kenapa ia harus tidak rela? Bahkan ia belum mengenal Xi Luhan. Ya Tuhan, apa ia terlihat begitu..err genit?

 

“Hey, melamunkan apa?”

 

Fany menoleh ke arah suara dan menemukan wajah menyebalkan Jongin.

 

“Bukan apa-apa.”

 

Jongin terlihat mengangkat bahunya dan berbicara sebelum meninggalkan Fany yang masih berdiri membelakangi pintu loker miliknya.

 

“Kalau ingin mengirim surat cinta taruh saja di bawah buku Fisika.” Kata Jongin sambil tersenyum aneh seperti biasanya.

 

Fany mendecak kesal lalu menghempaskan tubuhnya ke arah loker di belakang tubuhnya. Jari-jarinya mengenai papan nama pemilik loker yang timbul. Ia meraba nama itu ‘Kim-Jong-In’. Otaknya berusaha mengingat kata-kata Jongin beberapa detik lalu sebelum menghilang bersama teman-temannya.

 

“Kalau ingin mengirim surat cinta taruh saja di bawah buku Fisika.”

 

“Surat.. Cinta? Yak!!”

 

Waktu istirahat dihabiskan Fany untuk merangkum bab Medan Magnet yang baru saja diterangkan oleh Kwon Jiyong ssaem di perpustakaan. Materi pembelajaran Fisika semester satu kelas XII itu memang kurang dipahaminya sehingga ia rela untuk menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan.

“Besarnya medan Magnet disekitar kawat lurus panjang berarus listrik. Dipengaruhi oleh besarnya kuat arus listrik dan jarak titik tinjauan terhadap kawat. Semakin besar kuat arus semakin besar kuat medan magnetnya, semakin jauh jaraknya terhadap kawat semakin kecil kuat medan magnetnya.” Gumam Fany sambil menyalin hal penting yang ia temukan dalam ensiklopedia Fisika super besar tersebut ke buku tulis fisikanya.

“Hai Fany Choi. Kita bertemu lagi.”

Fany menoleh ke arah suara. Lalu memberikan senyumannya pada laki-laki tersebut. Xi Luhan menarik tempat duduk di samping Fany, duduk di atasnya, dan kemudian membaca sebuah buku berbahasa inggris sambil menumpukan kedua tangannya di atas meja. Fany yang ternyata dari tadi memperhatikan laki-laki itu langsung menggelengkan kepalanya dan kembali fokus pada ensiklopedia Fisikanya.

“Wah kau rajin sekali. Apa Jiyong ssaem memberikanmu tugas sebanyak itu?”

Fany memasang wajah shock-nya ketika melihat seberapa dekatnya jarak Luhan dengan dirinya. Pasalnya laki-laki itu mencondongkan tubuhnya saat berbicara. Ia juga merasakan tangan luhan yang menyentuh punggungnya. Buru-buru Fany mendorong sedikit tubuh Luhan agar menyisakan jarak yang lebih normal.

“Maaf sebelumnya Luhan ssi. Aku tidak suka saat orang lain menyentuh punggungku.” Kata Fany.

Luhan tersenyum mengerti, Fany kemudian melanjutkan pembicaraannya.

“Bukan, Jiyong ssaem tidak memberikan tugas. Hanya saja, aku ingin lebih mengerti tentang bab ini. Aku tidak terlalu memahaminya.”kata Fany sambil melirik Luhan dari ekor matanya.

“Oh begitu. Medan Magnet kan? Apa yang tidak kau pahami?” tanya Luhan berniat untuk membantu.

Fany tersenyum senang. “Apa tidak merepotkan?”

“Tentu saja.”

“Baiklah, soal yang ini. Yang nomer dua.”

“Oh begini. Arus A akan menghasilkan medan magnet di titik P dengan arah masuk bidang, sementara arus B menghasilkan medan magnet dengan arah keluar bidang . Arah sesuai Ba yaitu masuk bidang.” Kata Luhan sembari menuliskan cara pada buku tulis milik Fany.

“Wah, terimakasih Luhan ssi. Kau baik dan juga pintar.”kata Fany dengan senyuman di wajahnya yang makin lebar.

 

 download

Jongin mendribel bola basketnya dan menghempaskannya ke ring, bola basket itupun masuk ke keranjang. Musim dingin memang  sedang berlangsung di Korea, oleh karena itu banyak anak-anak ekstrakulikuler basket yang tidak melaksanakan kewajibannya. Jongin tentu bukan salah satu dari mereka. Ia adalah kapten sekaligus anggota terajin dari anggota lainnya. Musim dingin bukanlah halangan untuknya, justru dengan berolahraga suhu tubuhnya bisa lebih tinggi sehingga ia tidak akan kedinginan.

images

Seorang gadis remaja bertepuk tangan ketika Jongin menembakkan bola basketnya ke ring dengan sukses. Jongin menoleh dan memberikan smirk andalannya. Gadis itu Park Hyo Jin seorang ketua PMR di Seoul of Art Perfroming School. Sudah bukan hal baru bagi Jongin melihat gadis itu tiba-tiba berada di pintu masuk ruang olahraga in door saat ia sedang berlatih basket dan bertepuk tangan setiap kali ia mencetak poin.

“Semakin hari kau semakin keren saja.” Kata Hyojin. Gadis remaja itu membuka tutup botol air mineral dan menyodorkan botol itu pada Jongin. Jongin menerimanya, meminumnya sampai habis dalam sekali tengguk. Laki-laki itu kemudian mengenakan mantel hitamnya.

“Biasa saja. Bagaimana dengan lomba yang kalian ikuti?” tanya Jongin.

Hyojin membuka ziper tasnya. Mencari-cari handuk yang selalu ia berikan untuk Jongin. Selalu handuk baru, karena handuk yang lama tidak pernah Jongin kembalikan.

Yeah, kami juara dua.”Hyojin menyerahkan handuk ke arah Jongin.

“Itu pasti bukan hal baik untukmu dan Jinri.” Sahut Jongin.

Hyojin menutup ziper tasnya. Dan menyampirkannya ke pundak Jongin. “Aku sudah membuatkanmu bekal. Kau tahu persis bagaimana ambisiusnya aku dan Jinri. Kami bisa berubah jadi monster jika sudah berhadapan dengan rival.”

Jongin terkekeh pelan, seperti biasa suara kekehan yang aneh. “Kalau begitu, secepatnya kau akan  berubah menjadi monster.”

Jongin beranjak dan melangkah keluar dari ruang olahraga in door meninggalkan Hyojin yang masih berpikir sambil memandangi punggung Jongin penuh dengan tanda tanya.

 elmo watch

Fany menatap jam elmo yang melingkar manis di tangan kirinya. Pukul tiga, dan belum ada tanda-tanda mobil audy hitam yang kemarin menjemputnya akan tiba. Bagaimana ini? Ia meninggalkan dompetnya di meja belajar tadi malam, sehingga tidak mungkin ia menaiki bus untuk sampai ke rumah. Fany menolehkan wajahnya ke akan dan ke kiri siapa tahu ada seseorang yang ia kenal dan mau mengantarkannya pulang. Semoga saja. Harapannya terkabul, sebuah motor besar berwarna merah mencolok berada tepat di depannya. Sang pengendara melepas helm hitam yang menutupi wajahnya. Siapa lagi kalau bukan Kim Jong In si menyebalkan.

“Naik.”  Perkataan Jongin lebih tepat disebut perintah karena diucapkan dengan nada yang tinggi dan memaksa.

“Kau tidak perlu memerintah begitu.”kata Fany kesuh. Gadis itu menaiki motor Jongin dan berpeganggan pada bagian belakang motor. Jongin menggas motornya kencang. Membuat laju motor itu begitu cepat. Fany memegang bagian belakang motor kuat-kuat. Salah sedikit saja ia akan masuk ke Unit Gawat Darurat. Satu hal yang perlu kalian ketahui Fany tidak suka rumah sakit.

“Peluk pinggangku saja, kalau takut jatuh.” Suara Jongin terdengar sayup-sayup di gendang telinga Fany.

“Kau bilang apa?”

“Peluk pinggangku.”

Fany mendengarnya dengan jelas. Apa laki-laki ini gila? Oh, dia memang gila. Kalau Jongin tidak gila maka Jongin tidak mungkin mengejeknya dan mempermalukannya saat di London dulu. Menyebalkan sekali. Jongin benar-benar laki-laki yang menyebalkan!!

“Kenapa harus?”

Jongin tidak menjawab dengan kata-kata melainkan dengan kecepatan laju motornya. Fany mendesah, apa boleh buat, sekali Jongin memerintah ia harus melaksanakannya kalau tidak mau celaka.

Perlahan-lahan Fany mengarahkan tangannya menuju pinggang Jongin. Butuh tiga puluh detik lamanya bagi Fany sebelum tangannya benar-benar memeluk pinggang Jongin—hal itu karena ia berperang dengan egonya sendiri di dalam hati.

“Anak pintar.” Kata Jongin.

“AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN MAU MELAKUKANNYA LAGI! -_____-.” Teriak Fany dalam hati.

-TO BE CONTINUE-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s